Kamis, 26 Maret 2009

Renungan

Lagi-lagi Obama

Baru saja dua bulan Obama dilantik. Ya, Januari lalu jutaan orang memadati acara pelantikannya. Tamu dari berbagai negara pun berdatangan untuk menyaksikan catatan sejarah dunia tersebut. Tak lepas pula kaum masyarakat lemah yang begitu antusias untuk menyaksikan pelantikan tersebut walau harus terhalang dan mengurungkan niatnya karena mereka tidak mendapatkan tiket dan memang ‘tidak layak’ untuk menyaksikan perhelatan tersebut. Al hasil panitia pelantikan menyiapkan layar lebar di setiap sudut sehingga semua orang yang hadir dapat menyaksikan peristiwa tersebut walau lewat layar.

Ketokohan obama
Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat berbahagia dan juga berbangga atas pelantikan obama. Presiden SBY pun menyampaikan pidato untuk mengucapkan selamat kepadanya. Café-café di Jakarta memasang latar dan suasana yang sangat hangat tentang Obama. Bahkan di SD Menteng sebagai tempat dimana Obama menimba ilmu Sekolah Dasarnya, juga diadakan acara khusus untuk merayakan pelantikannya tersebut

Obama sekarang
Dunia seakan tak akan melupakan Obama dan peristiwa yang dijalaninya. Di Indonesia, di toko-toko buku, dengan mudah kami mendapatkan buku yang membahas tentang Obama. Entah karena ketokohannya, perjuangannya, cita-citanya, dan bahkan kontroversi agamanya. Semuanya dengan warna dan judul yang berbeda-beda. Pun dengan harga yang bervariasi dan cenderung agak istimewa.
Sebulan lagi tepatnya sembilan April Indonesia akan melakukan perhelatan akbar yang menghabiskan dana triliunan rupiah untuk memilih para wakil rakyat. Saat ini adalah saat kampanye. Di mana Obama lagi-lagi menjai ikon yang seakan digunakan untuk meraup suara bagi para caleg atau partai kontestan pemilu. Ada yang memasang Obama tepat berdampingan dengannya. Ada pula yang sekadar meniru foto Obama. Bahkan ada yang terlihat sambil jabat tangan dengan Obama. Di sudut lain seorang caleg sedang berangkulan dengannya. Padahal semua itu hanya permainan animasi dalam komputer. Tak satu pun caleg yang memasang Obama dalam balighonya pernah bertemu langsung dengan presiden ke-44 Amerika tersebut. Sekali lagi, karena ketokohannya dan kemampuannya untuk meraup kemenangan besar di pemIlu Presiden Amerika bulan Desember lalu.

Obama dalam iklan
Lain lagi cerita yang terjadi dalam dunia periklanan. Iklan sebagai sebuah cara yang dianggap paling tepat untuk memperkenalkan produk. Bisa melalui Koran, majalah atau radio. Tetapi, yang paling dianggap efektif adalah beriklan melalui media elektronik berupa TV. Televisi yang telah membenak dalam kehidupan masyarakat Indonesia mampu untuk menjadi jalan memperkenalkan produk dengan jalan yang sangat efektif. Peluang berhasilnya iklan tersebut sangat besar. Apatahlagi jika iklan yang dibuat oleh masing-masing podusen mampu untuk memanifulasi pikiran penonton sehingga kehadirannya selalu ditunggu. Tak bisa dipungkiri bahwa ketika kita menonton televisi dan iklan segera datang, maka dengan cepat remot akan memencet perpindahan stasiun yang tidak sedang beriklan. Tentu saja ini bisa merugikan media iklan. Tetapi jika iklan tersebut selalu teringat oleh kita dan bahkan siaran dimana iklan tersebut diputar, maka kehadirannya akan ditunggu oleh masyarakat.
Sebuah iklan kerupuk yang menampilkan seorang ibu dengan anaknya adalah salah satu yang menyita perhatian. Di sana kita lihat seorang balita berteriak Obama dengan bahasa sendiri sebagai anak-anak. Anda bisa membayangkannya. Ibu anak tersebut terkejut karena dia menganggap bahwa anaknya memanggilnya dengan mengatakan omama. Dia begitu heran karena anaknya tidak berlari ke arahnya. Melainkan berlari ke Obama. Dalam iklan tersebut bukanlah wajah asli Obama tetapi seorang asli Indonesia yang hanya memiliki muka yang agak mirip. Hanya agak mirip. Hoki orang tersebut tidak berhenti sampai di situ. Iklan minyak goreng merk Sanco juga menjadikannya sebagai ikon. Lagi-lagi gaya bahasanya mirip dengan Obama. Berselang beberapa menit, ketika saya mengganti stasiun televisi juga sedang beriklan. Betapa kagetnya saya ketika wajah yang ada pada iklan krupuk, dan minyak goreng tersebut juga kembali muncul. Dengan wajah, cukur, dan pakaian yang sama. Tetapi yang dia iklankan berbeda. Kali ini dia memerankan diri sebagai Obama yang sedang berada di luar negeri. Kemudian orang-orang dikampungnya meneleponnya dengan begitu serius. Saling bergantian orang-orang meneleponnya. Sesekali terlihat dalam layat televisi terbagi dua dengan wajah yang berbeda saling bercerita dalam telepon. Satu tujuan menelepon orang yang mirip Obama tersebut. Akhir dari iklan tersebut muncullah tulisan Simpati Pede. Lagi-lagi Obama. Saya kemudian tersenyum sambil memikirkan bagaimana ketika iklan tersebut dilihat oleh Obama presiden ke-44 Amerika Serikat. Mungkinkah dia akan jengkel karena namanya dikomersialkan. Mungkinkah dia merasa bangga karena ternyata banyak orang yang mengaguminya dan terpengaruh dengan dirinya. Atau mungkin dia akan menertawai kita karena kita begitu membanggakannya sementara kita hanya tetap berjalan di tempat. Semoga tidak kawan.



Kamarku, SY, 08 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar