Gegap
Malam belum begitu terasa. Aku baru saja pulang dari sebuah pusat perbelanjaan. Pun baru saja menjengut ibu kos teman saya yang baru saja mengeluarkan beban yang selama ini berada dalam perutnya. Beban yang membuahkan kebahagiaan. Beban yang telah disandangnya selama sembilan bulan akhirnya keluar melalui proses yang mendebarkan. Bukan saja dirinya yang berdebar. Suami, kecil, tinggi, rambut agak lembut begitu setia menemani meringankan beban yang selama ini dibawahnya. Toh, beban itu diakibatkan oleh sang suami tercinta. Perlakuannya dalam masa-masa yang mengasyikkan juga akhirnya membuahkan suatu kebahagiaan dan keasyikan tersendiri. Itulah hakikat suami istri. Di antara kemesraannya harus hadir orang ketiga yang akan semakin merekatkan kemesraan itu. Aku masih samar-samar mengingat ketika aku masih kecil dulu. Saat itu ibuku menggendongku dengan manja. Terkadang dia berusa meninabobokkanku walau aku masih juga belum ingin memejamkan mata. Tiba-tiba pintu belakang berbunyi. Bunyi yang berarti ada orang yang sengaja mendorongnya. Tak lama masuklah ayah dengan kepalanya yang tidak rata ditumbuhi rambut. Mungkin karena dia begitu banyak menanggung beban pikiran untuk ibu dan pastinya juga untuk saya. Dengan segera dia mendekap ibu dari belakang dan ibu pun membalasnya dengan senyuman. Ibu seakan mencurigaiku lalu dengan erat memelukku dan ayah yang juga begitu rindu denganku juga ingin mencium kening masih lembut tanpa jerawat dan juga tanpa biang keringat. Akhirnya bukan pipi saya yang tersentuh oleh ciuman mereka, tetapi bibir mereklah yang saling mengecup dengan menggunakan medium muka saya. Ayah dengan segera menarik kepalanya dan memegang ubun-ubun saya. Tingkahnya agak aneh. Mungkin sedikit malu, tapi entah kepada saya, kepada ibu, atau hanya kepada dirinya sendiri. Ibu hanya tersenyum sipu sambil menahan suara yang sebenarnya ingin keluar. Sementara aku asih dalam gendongan belum mengerti semuanya. Baru ketika tulisan ini aku goreskan baulah merasa bahwa ternyata begitu berartinya kasih sayang.
***
Tiba-tiba saya teringat bahwa pepsoden di rumah telah habis. Walau aku tinggal bersama saudara, aku paham bahwa bukan dia yang mesti menanggung semuanya. Perempuan yang ikut denganku dalam boncengan saya juga pasti memiliki keperluan. Sedikit kawan, bahwa selama ini saya sering makan, minum, dan juga beristirahat di rumahnya. Baju, celanaku pun tak pernah lagi aku yang cuci, kecuali celana yang sensitif itu. Akhirnya aku singgah saja pada tempat berbelanjaan yang begitu ramai. Pastinya karena harganya murah. Juga pastinya bukan barang-barang mewah. Tapi itulah takaran masyarakat umum di Indonesia selama ini. Aku juga tergabung di dalamnya. Kuparkir motor yang juga gratis kemudian kutitip pakaian yang sekali lagi pun gratis, dan kami melangkahkan kaki ke lantai dua. Maklum pepsoden itu bertengger pada rak yang letaknya di lantai dua sudut belakang. Sudah begitu kuhafal, begitu hafalnya saya terhadap wajah kekasihku.
***
Mata yang sudah diperhadapkan dengan berbagai bayangan-bayangan makanan tidak lagi terfokus pada pepsoden yang sedari awal kurencanakan. Perempuan yang kutemani pun agaknya paham dan tidak menyia-nyiakan waktu ini. Segera saja dia sambar keranjang berwarna biru di sampinya. Warna biru telah melekat dalam di benaknya. Semuanya harus serba biru. Pun kalau barangnya tidak ada dan waktu telah mendesak maka kuning adalah gantinya. Itupun diawali dengan omelan-omelan tajam yang sudah begitu lazim di telingan saya. Segera kuambil indo mie goreng, seakan aku paham maksudnya mengambil keranjang. Dia pasang keranjangnya dan slep, segera masuklah indo mie tersebut yang disertai dengan senyuman. Baru beberapa langkah kulihat kaleng cokelat penjaga stamina. Kuambil dua kaleng sebagai kebiasaan kami sebelumnya. Di sampingnya tumpukan Milo yang telah di plaster ukuran lima satu ikatan dengan harga Rp 4250 kuambil. Jumlahnya dua. Maklum di luar jualannya seharga seribu per bungkus. Sedikit lebih untung. Kami pun kemudian menuju rak bumbu dapur. Kulihat botol dengan berjejer di sana. Walau botolnya putih, yang tampak adalah jejeran hitam pekat di sana. ABC mereknya kawan. Kuambil satu dan....kawan inilah yang paling mendebarkanku. Lebih mendebarkan daripada proses persalinan ibu kos teman dekatku tadi. Lebih bagus kalau kuakui bahwa dia kekasihku. Juga tak kalah mendebarkannya ketika bibir ayah bertemu dengan bibir ibu di atas atas wajah saya yang belum mengerti apa-apa. Tanganku yang masih bertengger pada rak juga terdiam di sana. Mataku yang terfokus pada merek kecap tersebut juga semakin berbinar. Tetapi binarannya tidaklah semakin memperjelas tulisan tersebut. Telingaku yang sedari tadi asyik dengan musik pengiring pusat pembelanjaan tiba-tiba beralih funsi. Musik yang memutar lagu “jangan tinggalkan aku” pun tiba-tiba menghilang dalam pendengaran. Bukan karena dimatikan, tetapi karena fungsi telinga yang berubah. Dari ujung rak aku mendengar suara yang menyebutkan namaku. Suara itu pun bukan suara yang tak lazim. Tak mungkin aku tak mengenal suara itu. Pasti dia orang yang selama ini paling kuhargai setelah ibuku. Kawan, sedikit kuinformasikan, ayahku telah meninggal beberapa tahun lalu. Ya, betul dia adalah laki-laki yang selama ini selalu memperhatikanku. Memberikan semangat yang melebihi dari segalanya sehingga aku bisa berhasil pada dua departemen untuk menjadi pegawai negeri. Pekerjaan yang begitu terhormat di negeri ini. Dan itu dianut oleh banyak orang. Tentunya aku pun bahagia.
“Armin” nama itu merasuk dalam telingaku. Kueja nama itu dalam pikiran dan hati membantahnya. Tidak perlu lama-lama untuk mengejanya, namakulah yang dipanggil. Aku pun berbalik dan sontak saja mataku pas bertemu dengan matanya. Dia tersenyum, senyumnya seolah bermakna bahwa nah sekarang kamu tak bisa mengelak lagi. Aku juga tersenyum. Namun, senyum saya berbeda maknanya. Raut wajah saya kaku. Darah seakan berhenti mengalir. Kutanya engkau kawan, apakah yang menyebabkan semua ini? Perempuan yang mengikut di belakangku juga kaku. Tapi, tak banyak. Tidak sama denganku. Dia mungkin belum tahu siapa sebenarnya orang yang di depan kami tersebut. Dengan segera dia menyalami saya. Katanya yang terlontar hanya satu, “Itumi” (dalam bahasa Makassar). Aku paham bahwa yang dia maksudkan adalah itukah calon istrimu? Aku masih gugup, tetapi kuyakinkan diri sejenak dan segera kujawab, “Iya”. Dia tersenyum sambil melepaskan tanganku. Perempuan yang kutemani pun disapa dengan salam dan jabatan tangan. Dengan segera kualihkan pembicaraan mengenai tugas istrinya. Untunglah dia juga segera melanjutkannya. Mungkin karena ini adalah kepentingannya. Setelah itu kuambil gerak berbalik dan kuberi kode pada perempuan yang disampingku. kuperkenalkan namanya Inar. Lebih lengkapnya Hasdinar. Setahun lalu juga sudah menamatkan pendidikannya di jurusan Fisika. Dia masih belum tahu siapa laki-laki itu. Setelah berbalik di balik rak kusampaikan padanya bahwa itu adalah om saya yang akan mewakili untuk melamarmu nanti. Dia terperanjak sekaligus tersenyum. Aku paham makna senyumannya. Mungkin juga engkau kawan.
Makassar, 06 Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar