Saatnya tiba !!!
Empat puluh tahun bertatambah dua bulan perempuan itu mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Dia begitu gigih menghadapi siswanya yang tak pernah genap berjumlah lima puluh orang. Apalagi lebih, semua itu hanyalah angan-angan.
Tiap pagi dia harus menghadapi siswa yang begitu bersemangat untuk mampu mengeja a sampai z dan merangkainya menjadi kata-kata yang mungkin saja lucu baginya. Sekolah itu bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Tuhoi. Kehadirannya berada di bawah naungan Al Maarif. Entah yayasan apa itu. Sepuluh tahun sudah saya meninggalkan sekolah itu, dan bahkan sekarang saya telah menjadi pegawai negeri yang juga pengajar di tingkat SMA, namun aku belum tahu asal usul dan keberadaan yayasan tersebut.
Sekolahnya berdiri pada sebidang tanah yang tak kalah luasnya dari seperdua lapangan bola yang tak pernah digunakan untuk bertanding. Artinya tidak memiliki standar ukuran untuk sebuah lapangan bola. Disitulah stiap hari perempuan itu mengeja dan menjumlahkan serta mengajar para muridnya untuk mengaji. Belum lagi pelajaran agama berupa quran hadits, fikih serta satu tambahan mata pelajaran yang juga mungkin menguntungkan sang guru. Bergantian untuk mencangkul ketika jam istrahat tiba. Enam cangkul tersusun rapi pada sudut skolah. Maklum, sekolah itu berdiri pada tanah yang diwakafkan olehnya sendiri. Sungguh luar biasa aura kehormatan dan keihlasan sang guru. Sembilan tahun perempuan ini mesti bolak-balik dari kelas satu sampai kelas enam dan kembali ke kelas satu. Hal ini mesti dia kerjakan setelah suaminya yang juga guru meninggalkannya untuk selamanya. Jangan tanya kenapa tidak mencari saja guru honor untuk membantunya. Sampai akhir ketika dia diberikan SK pensiun, penerangan, deru mobil, dan penjual pakaian yang pasti kebanyakan bekas atau lebih dikenal dengan nama cakar tak pernah dia rasakan hadir di tempatnya mengajar. Pun akhir pensiunnya hadirlah sinyal dari Telkomsel dan Indosat. Mungkin karena sinyal ini hanya melayang di udara jadi juga sempat melewati wilayahnya walau sebenarnya bukan diperuntukkan untuk daerah tersebut.
Enam tahun sebelum masa pensiunnya tiba, barulah putranya seorang laki-laki jebolan IAIN yang sekarang berevolusi menjadi UIN melanjutkan pengabdiannya. Pun dia hanya berdua. Walau sedikit meringankan bebannya yang dari enam kelas ditanganinya sendiri menjadi tiga kelas. Sedikit meringankan. Sebuah pengabdian yang tak terkira nilainya. Untunglah siswa dan orang tua yang memiliki anak untuk disekolahkan di sekolah tersebut juga paham akan arti pengorabanan dan kasih sayang serta balas jasa. Walau mereka juga tak pernah duduk pada bangku sekolah. Sang guru tak perlu berjalan 40 km pergi pulang hanya untuk membeli dua ekor ikan cakalang yang cukup untuk dimakan empat hari. Dia tinggallah menitip uang dan menyebutkan apa yang akan dipesannya. Minyak tanah tak perlu. Sayur pun tak butuh. Maksudnya untuk dibeli di pasar. Orang tua sang murid paham. Pun murid seperti itu. Mereka selalu mengambil kayu di sekitar sekolah tatkala jam pulang telah tiba. Bukan untuk dibawa sampai di rumahnya. Bahkan dirumahnya ibu mereka baru mencari kayu ketika menjelang memasak. Kayu itu singgah di kolong rumah gurunya, sehingga di sana terlihat barisan kayu yang siap untuk digunakan memasak berjejer mengiringi tiang yang tak pernah lapuk karena terbuat dari pohon sappu (kayu khas daerah tersebut yang dipercaya sangat kuat).
Pun sayur begitu adanya. Dia begitu rajin menanami sekitar sekolah yang telah dicangkul oleh siswa dengan kacang panjang diselingi buncis. Tak pernah tunggu sampai kering untuk memanennya. Hanya menunggu setiap muncul daun baru untuk dijadikan sayur. Juga ditambah dengan keseringan orang tua siswa menyinggahkan secangkir isi bencis serta daun ubi yang mereka ambil dari kebun mereka. Di belakang rumah dekat tempat pembuangan hajat juga dengan subur tumbuh serumpun bambu yang setiap tahun menyuguhkan rebung yang begitu enak dan menyehatkan. Kemorenan sangat jauh dari dunianya.,
Tetapi kini usianya sudah melebihi batas pengabdian seorang Pegawai Negeri Sipil. Padahal dia tak pernah merencanakan untuk pensiun. Bukan karena gaji yang dia takutkan untuk berkurang. Karena begitu emosinya telah sangat erat dengan kehidupan siswa dan lingkungannya. Bahkan sampai SK berada di tangannya pun dia masih setia mengajar dan juga selebihnya. Sedikit untuk meringankan pekerjaan anaknya sendiri yang akan melanjutkan pengabdian itu. Juga sendiri. Tak ada seorang pun yang layak untuk dijadikan pengajar suka rela demi membantunya. Prinsip masyarakat sangat simpel. Hanya berharap semua anaknya mampu untuk menulis dan membaca. Setelah itu, kemudian ke Makassar bergabung dengan keluarga mereka yang telah lebih dulu berada di tempat itu untuk bergabung membantu orang-orang cina. Pasti dengan gaji yang tidak mencapai UMR. Tapi itulah kenyatan yang membanggakan bagi meraka.
Semoga pengabdiannya mendapat tempat dalam sisi yang mengagumkan. Panjang umur teriring doaku sebagai anak juga sebagai muridnya yang menurut orang telah berhasil.
Muhajirin, 01 maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar