TELEVISI DAN PONARI
Masih begitu teringat akan siapa Ponari. Akan kejadian yang menghebohkan di Jombang. Bukan kasus korupsi, juga bukan kasus bencana alam. Pun juga bukan kasus kekerasan, pembunuhan, pencurian, perampokan, dan lain hal yang selama ini menghiasi pertelevisian kita. Tetapi yang hadir adalah dukun cilik yang bernama Ponari. Tetapi itu di Jombang. Kemunculannya begitu membuat kita tercengang. Betapa tidak ribuan orang yang hadir untuk berobat di sana. Mereka sampai berdesakan dan akhirnya ada yang tewas. Bukannya kesembuhan yang mereka peroleh tetapi kematian yang segera mejmeput. Belum lagi si Dewi dan juga St. Romlah yang ketiganya berada di Jombang Jawa Timur. Ketiga orang tersebut melakukan praktik pengobatan dengan menggunakan batu ajaib. Ada yang katanya batu petir, pun muncul kembar batu petir Ponari dan juga batu bertuan yang katanya bisa berbicara. Semuanya diserbu ribuan pasien yang kebanyakan berasal dari masyarakat miskin. Rumah ponari yang begitu sederhana dikerumuni oleh berbagai etnis dan asal daerah yang ingin berobat. Polisi bahkan kewalahan dan kehabisan akal untuk menghentikan praktik pengobatan yang belum bisa diterima secara medis tersebut. Bahkan ada masyarakat yang begitu gila dengan mengambil (maaf) air got, tanah, dan apa saja yang terdapat di sekitar rumah ponari.
Maret 2009, Makassar juga dikejutkan dan bahkan ditantang dengan hadirnya dukun cilik yang masih duduk pada bangku kelas 1 SMP. Dia bernama Randi Wijaya Kusuma. Nama yang lebih modern dibanding dengan nama dukun sebelumnya. Tetapi, itu hanya nama. Perbuatan dan praktiknya sama. Sama-sama mengobati pasien dengan medium sebuah batu. Katanya, batu itu berbentuk bulat lonjong seperti telur dan menghasilkan minyak. Minyak itulah yang dijadikan sebagai bahan pengurut kepada pasien. Sedikit lebih rasional dibandingkan dengan yang hadir sebelumnya. Ponari, dkk di Jombang hanya mencelupkan batu pada air yang sudah dibawa oleh masing-masing pasien. Sedangkan si Randi menjadikan minyak tersebut sebagai alat untuk mengurut pasiennya. Juga dihadiri oleh ratusan orang.
Kekayaan Ponari
Selama 22 hari Ponari praktik dan setelah itu pihak keluarganya meminta untuk segera ditutup. Media memberitakan bahwa kekayaan ponari sudah begitu melimpah. Bayangkan, setiap hari antara 30 sampai 40 juta yang berhasil terkumpul dalam celengan sang dukun cilik. Kawan, kalianlah sendiri dan dapat menghitung hasilnya. Betapa banyak uang yang didapatkan oleh Ponari dari pengobatan irasional tersebut.
Entah untuk Dewi dan St. Romlah. Berapa uang yang mereka berhasil raup dari pengobatannya itu. Suatu hal yang mungkin saja membuat kita miris menyaksikannya.
Peran TV
Kemunculan Ponari dengan berbagi berita yang kontroversial pasti akan membuat orang yang percaya dengan semua itu berpikir. Dengan munculnya dukun cilik tersebut membuat orang berpikir pintas untuk menjadi kaya. Betapa bodohnya orang untuk diperbodoh. Betullah pesan orang tua saya, “Nak di dunia ini hanya orang yang akan diperbodoh yang kurang, yang menginginkan untuk memperbodoh begitu banyak.” Pesannya ketika aku akan meninggalkan kampung halaman. Erat aku pegang pesan itu. Pascapemberitaan kekayaan Ponari maka muncullah si Dewi, si Romlah, dan terakhir muncul di Makassar. Kemunculan semua itu karena peran televisi yang begitu bergairah untuk memunculkan berita yang memiliki pengaruh dari segi mistik yang sangat kuat. Televisi telah begitu besar mengambil peran untuk kebodohan masyarakat. Televisi dengan begitu bebas memperlihatkan apa saja yang ingin diberitakannya. Tidak pernah berpikir tentang dampak dan juga akibat yang akan muncul pascapemberitaan tersebut.
Saat ini, masyarakat Indonesia berada dalam kegamangan. Begitu mudah untuk terpengaruh tentang apa saja. Kehadiran televisi pun dianggap sebagai dewa bagi kebanyakan masyarakat. Tak sah rasanya ketika masyarakat hidup tanpa televisi.
Kami tinggal berharap akan kehadiran sang pengawas dan kekonsistenan dari Komisi Penyiaan Indonesia (KPI). Semuanya tinggal diharapkan dari situ. Peran pemerintah dalam memberikan kontrol pertelevisian untuk kelangsungan kehidupan rasional masyarakat sangat diharapkan. Semoga semuanya bisa berjalan sesuai dengan etika keagamaan, sosial, dan kehidupan toleransi.
Makassar, Maret 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar