Sabtu, 18 April 2009

Umum Coi

Islam dan Kesehatan

Baru saja beberapa menit saya mematikan tv dari handphone merek hi-tech saya. Tentunya siaran yang aku saksikan adalah bengkel hati di stasiun swasta TPI bersama dengan ustaz Danu. Untaz yang terbilang muda dengan penampilan sederhana tanpa mengikuti ciri yang digunakan sebagain ulama saat ini. Yang mana kepala harus dibalut dengan kain putih serta pakaian yang berjubah hingga berbagai pernik lain yang selalu diidentikkan dengan seorang pemuka besar agama islam. Tentunya kita tidak akan percaya dengan pemahaman agama ustaz Danu ketika kita hanya melihat dari fisiknya saja. Benarlah islam mengajarkan kita bahwa janganlah memandang seseorang dari segi suku, ras, bentuk fisiknya, tetapi pandang dan bergaullah dengan orang karena hatinya. Berbagai macam penyakit yang diderita oleh banyak orang atas izin Allah mampu untuk sembuh dalam acara bengkel hati tersebut. Terlihatlah seorang laki-laki yang menggunakan songkok putih dengan dagu yang sedikit ditumbuhi janggut. Betapa dia ingin sembuh dari penyakit yang dideritanya. Pengakuannya, sudah lebih dari 30 kiayi yang didatanginya untuk berobat. Pun lebih tiga puluh orang yang dianggap pintar untuk mengobati telah dia datangi. Apa gerangan penyakitnya. Ternyata, sejak lahir dia telah diberikan kekuatan gaib oleh orang tuanya. Untunglah Allah memberikan petunjuk kepadanya sehingga dia memiliki keinginan untuk bertaubat. Tak pelak, di bengkel hati, dipandu oleh sang ustaz Danu, dengan gemetar dan wajah yang aneh, perlahan dia bisa mengendalikan diri dan kemudian mengikuti perkataan ustaz Danu untuk memohon ampun kepada Allah, Swt. Alhamdulillah, penyakitnya Insya Allah sembuh dan diiringi dengan pesan untuk senantiasa bertaubat dan menjadikan Tuhan Semesta alam sebagai sembahan yang pasti dan satu-satunya yang wajib kita percayai atas kekuasaannya.
Tak lama, di depan rumah terdengar suara motor yang suaranya tak asing bagi telingaku. Dan, ya, betul bahwa yang datang adalah pengantar koran pagi hari ini. Koran kompas tentunya. Koran yang menjadi langgananku baru sekitar tiga bulan ini. Hanya karena keyakinan untuk mengetahui perkembangan nasional dan Internasional tentunya. Pun kutambahkan sedikit, untuk mempertahankan minat baca karena koran tergolong bahan bacaan yang murah dan menarik. Terutama kompas tentunya. Setelah aku memberikan senyum kepada sang pengantar yang kebetulan pagi ini koran diterima oleh keponakan saya, maka segera kuambil koran itu dari tangannya. Kupastikan bahwa pagi ini akan kubaca koran ini sampai habis. Mumpung juga hari ahad. Aktivitas tak begitu padat. Kolom demi kolom kubuka. Aku terhenti sejenak pada kolom ketiga setelah aku melihat di sudut kanan bawah terbaca Obituari. Siapa gerangan yang telah dipanggil oleh sang pencipta?
Dengan jelas di sana tertulis ‘Suami Menteri Kesehatan Meninggal Dunia’. Suami orang nomor satu tentang kesehatan di Indonesia. Lalu apa gerangan yang menyebabkan dia meninggal. Sebelumnya Kuucapkan Innlillahi wainna ilahi rajiun. Semoga Tuhan menerima segala amalannya. Pasti selain memang karena ajalnya kawan. Ternyata sang suami menteri tersebut yang bernama Muhammad Supari meninggal karena penyakit leukemia yang dideritanya. Bukan tidak percaya atas ilmu kesehatan dunia kawan, tetapi kesehatan sebenarnya berasal dari jiwa. Jiwa yang maaf, kurang bersih pasti akan rentang terhadap penyakit. Bukan memperbandingkan dengan sang suami menteri tadi. Hanya menjadikannya metafora karena menteri tersebut adalah orang yang paling tahu tentang kesehatan dunia. Kotor bukanlah istilah yang sangat jelek dalam persoalan hati kawan. Sebut saja misalnya ustaz Danu mengatakan sering marah-marah, memaksakan kehendak, tidak saling menolong, selalu membicarakan kejelekan orang lain adalah sisi kotor dari dalam jiwa seseorang. Apatahlagi jika hal tersebut terjadi pada diri seorang muslim. Muslim telah dijelaskan bahwa sesungguhnya kita bersaudara.
Olehnya itu, marilah kita selalu menjadikan jiwa kita menjadi bersih, tidak sering marah kepada siapa pun, membantu saudara kita tanpa pandang bulu, senantiasa melakukan suatu pekerjaan dengan ikhlas dan pastinya ibadah kepada Allah, Swt adalah sebuah kunci yang utama. Jika kita senantiasa membersihkan hati, setelah itu ditambah dengan pola makan yang mencerminkan kesehatan, maka Insya Allah kita akan senantiasa diselimuti kesehatan yang datangnya dari Allah, Swt. Bukan sebuah kesehatan yang berasal dari obat-obatan, karena sesungguhnya obat-obatan itu lahir atas izin Allah sang maha Kuasa atas segalanya.
Kematian adalah sesuatu yang telah dipastikan, segala sesuatunya berasal dan akan kembali kepada Allah. Marilah kita menjadikan hidup ini sebagai kehidupan persinggahan yang memberikan manfaat kepada sesama, memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi orang lain, dan pastinya bagi diri kita sendiri. Marilah kita menjalani hidup ini dengan senantiasa mengingat akan kebesaran Allah atas apa yang dipinjamkan kepada kita selama ini.
Semoga Tuhan senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita baik dalam bentuk kesehatan, umur yang panjang, perbuatan baik, serta hal lain yang tak dapat kita sadari.


Makassar, Ahad, 29 Maret 2009

1 komentar:

  1. yah, akupun pernah nonton nie acara. bagus banget. cuman gimana ya caranya konsultasi dengan ustaz melalui email. beri infonya ya...

    BalasHapus