ETALASE SENJA
Sebuah pertemuan yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi. Darah berceceran di mana-mana. Kehangatan yang selama ini dirasakan hilang dengan segera. Sudah sejam situasi itu terjadi pada sebuah desa yang diberi nama desa Kabambangang. Letaknya tak jauh dari ibukota kabupaten. Jalannya yang meliuk serta pinggiran jalan yang dihiasi pantai indah. Di sisi lain tersenyum nyiur untuk menjemput tiap orang yang datang.
Semua itu tiba-tiba saja berubah. Tiada lagi senyum manis yang terbersik dari tiap sisi bibir manis gadis desa. Semuanya sudah sibuk dengan pilihan mereka sendiri. Semuanya saling mencurigai. Tiap meter dan tiap jejeran rumah yang aku lewati memiliki warna yang berbeda. Terkadang di kanan aku melihat warna kuning dengan nomor 23 terpampang. Di sisi lain paduan kuning dan berbagai warna lain dengan nomor 8 juga begitu apik tersusun di depan rumah salah seorang warga.
Semua itu belum lama ini terjadi. Semakin hari, hiasan warna itu semakin marak. Katanya menjelang bulan April. Aku begitu heran dengan situasi kampungku saat ini. Aku begitu bosan. Begitu jengkel. Mengapa hanya warna-warna yang terpajang itu membuat kita terpecah. Membuat kita saling mencurigai dan seakan tempat tiap orang adalah sebatas pekarangan mereka. Semua ini terjadi karena hadirnya para kontestan dalam pemilu yang semakin hari-semakin menjadi. Tiada lagi sisi jalan yang lengang. Kalau bukan bendera, maka yang tampak di mata adalah baligho yang tersenyum manis. Manisnya sesuatu yang dipaksakan. Hanya sebatas bagaiamana mempengaruhi oang-orang yang menyaksikan muka manisnya untuk mencontreng gambar merea 9 April mendatang. Semuanya hanya etalase.
Suatu waktu kawanku menceritakan tentang seorang caleg dikampungnya. Katanya, orang yang macccaleg tersebut adalah seorang mantan kepala koperasi. Namnya begitu dikenal. Setiap baligho yang dipajang diikuti dengan tulisan delapan tahun mengabdi untuk rakyat. Teman yang kebetulan sekampung dengan caleg tersebut memplesetkannya menjadi delapan tahun memeras rakyat. Bukan hanya dirinya yang mengatakan seperti itu, tetapi kebanyakan masyarakat desa. Sebuah pertanda tak terpilih dan kekecewaan yang akan didapatkan oleh caleg tersebut. Kasian.
Saya berpikir bahwa hal itu yang kebanyakan terjadi. Di Makassar saja misalnya, 800-an orang yang caleg, sementara hanya 45 orang yang akan tersaring dalam pemilu nantinya. Sekali lagi, kasian. Akan kemana mereka dan dari mana mereka mesti mengganti uang kampanye bagi yang tak terpilih. Busyet. Mungkin saja strok centre akan semakin disesaki oleh penghuni-penghuni baru. Anehnya, penghuni itu adalah mantan caleg. Akan terciptalah nanti rumah sakit jiwa khusus caleg. Mungkin mirip nusakambangan. Belum lagi caleg-caleg stress yang berasal dari daerah lain. Ribuan jumlahnya.
Sementara mereka yang lolos akan tertawa terbahak-bahak sambil mencomooh para pesaingnya yang gagal. Enam bulan digunakan hanya untuk menerima ucapan selamat dan mencemooh kawan-kawannya. Bulan-bulan berikutnya digunakan utnuk mengmablikan utang-utang semasa kampanye. Takun berikutnya digunakan untuk membayar upeti kepada orang-orang tertentu yang senantiasa mendukung keberadaanya. Tahun berikutnya berpikir untuk kekayaan dan kebanggaan secara pribadi dan keluarga. Setahun terakhir berpikir bagaimana bias kembali lolos dengan hal yang sama. Kasian rakyat. Tiada waktu yan disisihakn untuk berbuat demi kemuslahatan merem\ka. Cerita vbanyak, mendukung pembangunan untuk rakyat, berjuang untuk rakyat, tetapi semuanya hanya etalase.
Makassar, 04 Februari ‘09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar